Nasionalime : Angklung Milik Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini kita diributkan dengan pemberitaan mengenai budaya tradisional Indonesia yang diklaim oleh negara lain sebagai miliknya. Tidak hanya satu, melainkan beberapa dan mungkin banyak budaya indonesia yang diklaim bahkan diisukan hampir dipatenkan oleh negara lain. Angklung sebagai salah satu budaya tradisional asli Indonesia juga tak luput dari tangan-tangan jahil pihak tak bertanggung jawab.

Adalah Malaysia, negara yang dikabarkan hendak mempatenkan angklung sebagai warisan budaya milik Malaysia.Pemberitaan ini kontan menimbulkan rasa marah masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Pasundan yang merupakan pewaris dari kesenian angklung ini. Berbagai aksi sentimen anti-Malaysia pun bermunculan di berbagai daerah di Tanah Air. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan, yaitu memberitahukan pada dunia bahwa angklung milik Indonesia.

Sebenarnya, bagaimana sih sejarah angklung itu sendiri?Mungkin tidak banyak yang mengetahui bagaimana persisnya perjalanan alat musik bambu yang dulu tidak begitu populer sampai akhirnya kini menjadi primadona.Pada zaman dahulu ketika Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan, alat musik angklung memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu.Angklung biasanya digunakan dalam ritual-ritual pada masa panen.Namun ketika masa penjajahan, popularitas angklung menurun.Masuknya berbagai macam alat musik yang berasal dari luar Indonesia juga turut menyebabkan turunnya popularitas angklung hingga akhirnya angklung hanya dimainkan oleh pengemis dan dianggap hina oleh berbagai kalangan.Daeng Soetigna yang merupakan putra Pasundan tertarik dengan musik angklung yang dibawakan oleh sekelompok pengemis.Pak Daeng kemudian membeli seperangkat angklung yang dimainkan oleh pengemis tersebut.Terbesit keinginan Pak daeng untuk menciptakan angklung diatonis kromatis (bernada do-re-mi-fa-sol-la-si-do) agar dapat digunakan untuk mengiringi lagu-lagu modern karena sebelumnya angklung sendiri bernada pentatonis (da-mi-na-ti-la-da) yang biasanya digunakan untuk memainkan lagu tradisional.Setelah berguru kepada Pak Djaja (orang yang ahli membuat instrumen musik Sunda) dan melewati berbagai hambatan, akhirnya Pak Daeng berhasil membuat angklung modern bernada diatonis.Karena hal inilah Pak Daeng kemudian dikenal sebagai Bapak Angklung Indonesia.

Selanjutnya, Pak Daeng berusaha memperkenalkan angklung modern di sekolah-sekolah (pada saat itu Pak Daeng adalah seorang guru).Hambatan pun kembali menghadang.Banyak yang menentang rencana Pak Daeng karena alat musik tersebut masih dianggap sebagai alat musik pengemis.Namun Pak Daeng tetap mengajarkannya di sekolah-sekolah karena menurut beliau angklung mempunyai sifat mendidik.Usaha Pak Daeng tidak sia-sia.Kini angklung sudah semakin berkembang di Jawa Barat, bahkan gema suaranya sudah sampai ke tingkat dunia.

Kini angklung terancam direbut negara lain. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa sampai terjadi?Jawabannya cukup mudah, tidak sedikit masyarakat yang mulai meninggalkan angklung dan tidak peduli dengan perkembangannya.Ketidak-pedulian inilah yang dimanfaatkan Malaysia untuk kemudian mengklaim kebudayaan kita.Jadi, kita sebagai generasi muda yang juga merupakan ahli waris kekayaan budaya leluhur dituntut untuk ikut berperan aktif menjaga dan melestarikan berbagai warisan budaya, termasuk angklung. Jangan sampai angklung direbut negara lain. Mari kita teriakkan : Angklung milik Indonesia!

Sumber referensi : buku Membela Kehormatan Angklung : Sebuah Biografi dan Bunga Rampai Daeng Soetigna, karya Tatang sumarsono dan Erna Garnasih Pirous.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *